Segenap Crew Radio Da'wah Himmah Yaman Mengucapkan Selamat Hari Raya Idul ِAdha 1435 H. Mohon Maaf Lahir dan Bathin

Keduduan Khalik Dan Mahluk

Dibuat pada 07 Maret 2012


Sesungguhnya perbedaan kedudukan antara Sang Pencipta (khalik) dan yang diciptakan (makhluk) merupakan batas di mana kita bisa mengetahui apakah seseorang itu beriman atau kafir. Dan tidak diragukan lagi bahwa orang yang mencampuradukkan di antara keduanya berarti orang tersebut telah masuk dalam lubang kekufuran. Wal `iyadz billah…

 

Banyak orang yang beranggapan keliru dengan mengatakan bahwa jika kita mengagungkan Nabi Muhammad SAW itu sama saja dengan menempatkan  kedudukan beliau di dalam kedudukan tuhan, sehingga kita saksikan bahwa dengan cepatnya mereka mengkafirkan orang-orang yang melakukan hal tersebut serta mengira bahwa mereka telah mengangkat kedudukan Nabi ke dalam kedudukan uluhiyyah.

 

Pada hakikatnya bukanlah seperti itu. Telah kita ketahui bersama hal-hal yang membedakan antara kedudukan Sang Khalik dengan makhluk. Di antara hak-hak Sang Khalik adalah kekuasaan penuh dalam menciptakan, merajai, dan memelihara makhluk. Selain itu bahwa Sang Khalik adalah satu-satunya yang berhak disembah dengan berbagai bentuk ibadah apapun. Oleh karenanya, tidak diperbolehkan memuji kepada Rasulullah SAW dan makhluk-makhluk yang lain dengan pujian atau sifat-sifat yang telah tersebut diatas.

((لا تطروني كما أطرت النصارى ابن مريم)) ..
Artinya: “Janganlah kalian memujiku seperti Kaum Nasrani memuji Isa bin Maryam”
Bisa difahami dari hadits di atas bahwa memuji dan memuliakan Nabi Muhammad SAW adalah sesuatu yang terpuji dan bukan merupakan sesuatu yang dilarang. Allah SWT telah memuji Nabi SAW di dalam Al-Qur`an dengan berbagai pujian yang agung, maka diwajibkan pula atas kita memuji dan mengagungkan beliau seperti yang telah Allah perintahkan.

Yang perlu digarisbawahi di sini adalah bahwa mengagungkan beliau bukan berarti menyifati dengan berbagai sifat ketuhanan. Maka, apabila pujian itu bebas dari sifat-sifat ketuhanan kita tidak bisa menghukumi dengan kufur atau syirik, bahkan hal itu adalah salah satu bentuk ketaatan yang agung. Sama seperti Allah mengagungkan nabi-nabi dan rasul-rasul yang lain serta para malaikat, syuhada` dan sholihin.

ذَلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى الْقُلُوب (الحج: 32
Artinya: “…Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya yang seperti itu timbul dari ketakwaan hati” (Q.S. Al-Hajj: 32)
ذَلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ حُرُمَاتِ اللَّهِ فَهُوَ خَيْرٌ لَّهُ عِندَ رَبِّهِ (الحج: 30)
Artinya: “…Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang     terhormat di sisi Allah, maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya”
(Q.S. Al-Hajj:     32)

Termasuk dalam hal ini adalah ka`bah, hajar aswad, dan maqom Ibrahim. Sesungguhnya benda-benda tersebut hanyalah sebuah batu, akan tetapi Allah telah memerintahkan kita untuk mengagungkannya dengan melakukan thowaf dan menyentuh Rukun Yamani serta mencium hajar aswad, sholat di belakang maqom Ibrahim, dan sebagainya. Semua bentuk ibadah di atas bukan berarti kita menyembah batu-batu tersebut, juga bukan berarti meyakini bahwa batu-batu tersebut mempunyai pengaruh baik ataupun buruk pada seseorang, akan tetapi tidak ada niat sama sekali kecuali hanya menyembah Allah ta`ala.

((حدثني من لا أتهم من الأنصار أن رسول الله  كان إذا توضأ أو تنخم ابتدروا نخامته فمسحوا بها وجوههم وجلودهم،فقال رسول الله  : لم تفعلون هذا ؟ قالوا : نلتمس به البركة ، فقال رسول الله  : من أحب أن يحبه الله ورسوله فليصدق الحديث وليؤد الأمانة ولا يؤذ جاره)) ..
Artinya:

Dan kesimpulannya, ada dua perkara penting yang harus diperhatikan:    
Pertama : kewajiban mengagungkan Nabi Muhammad SAW di atas makhluk yang lain.
Kedua      : kewajiban mengesakan tuhan hanya kepada Allah SWT dan meyakini bahwa tidak    
ada sesuatu yang menyamai-Nya dari segi apapun.

Maka, barangsiapa meyakini bahwa terdapat makhluk yang menyamai Allah SWT dari segi sifat, zat, ataupun apa yang Dia kerjakan maka telah berbuat syirik. Begitupun jika tidak mau memberikan hak-hak dalam mengagungkan Rasul sesuai dengan martabat yang disandangnya maka boleh dikatakan bahwa dia telah berbuat maksiat bahkan telah dianggap sebagai orang kafir. Na`udzubillah…

Sedangkan jika mengagungkan Nabi Muhammad SAW dan melebih-lebihkan dalam pengagungannya akan tetapi tidak sampai menyifati dengan sifat-sifat ketuhanan, maka hal itu adalah bentuk ibadah yang sempurna tanpa adanya kurang ataupun lebih. Wallahu a`lam bishshowab.

sayyid Muhammad Maliki

Penerjemah : Mahasiswi Fakultas Tarbiyah

Tulis Komentar


Kode keamanan
Segarkan