Segenap Crew Radio Da'wah Himmah Yaman Mengucapkan Selamat Tahun Baru Hijriah 1436 H

Pengaruh Westernisasi Terhadap Pendidikan di Indonesia

Pengaruh Westernisasi Terhadap Pendidikan di Indonesia
       Sepertinya, kata "taghrib" atau westernisasi sudah tidak asing lagi kita dengar. Di Indonesia –menurut penulis- westernisasi merupakan suatu masalah  yang perlu dicermati bersama, karena westernisasi yang  bermula pada sekitar abad ke-19 merupakan arus besar dalam dimensi politik, sosial, kulturbudaya, pengetahuan dan dimensi-dimensi lainnya untuk mengubah karakter kehidupan bangsa-bangsa di dunia secara umum dan negara-negara  Islam khususnya menjadi paham-paham barat.

       Westernisasi memang tidak selamanya memberikan sisi negatif terhadap suatu negara, akan tetapi tak jarang westernisasi juga memberikan sisi positif, hanya saja penduduknya  yang kurang selektif terhadap pengaruh atau dampak akan westernisasi tersebut.
      Serangan pemikiran barat bekerja dengan cara yang lihai,  terselubung dan mematikan (swift, silent and deadly) sehingga kita dengan mudah menerimanya.  Jadi sebenarnya tanpa disadari banyak aspek kehidupan kaum muslimin di  Indonesia yang terjangkit virus westernisasi. Salah  satunya dalam lingkungan pendidikan, bahkan dalam lingkungan pendidikan yang kelihatannya Islami pun  belum tentu seratus persen terbebas dari dampak westernisasi.
       Sebagai contoh, jika kita menilik pada sistem KBM  (Kegiatan Belajar Mengajar) di sekolah-sekolah Islam formal (MI, MTs, MA, dan sebagainya) di  Indonesia, tanpa disadari sebenarnya mayoritas dari sistem KBM-nya telah terkena virus westernisasi. Buktinya jadwal pelajarannya  mayoritas adalah pelajaran umum, sedangkan jadwal pelajaran agama hanya minoritas saja.  Memang sekolah formal (umum) itu bukan sekolah diniyah (agama),  tapi kalau kita renungkan sejenak masalahnya yaitu tidak banyak remaja sekarang yang  sekolah diniyah. Karena mungkin mereka pikir mereka telah belajar atau sekolah di  sekolah formal, dan di sekolah formal tersebut juga dipelajari tentang agama.  Nah, sekarang pertanyaannya adalah cukupkah belajar agama yang  begitu luas hanya tiga jam -jadwal minimal KBM formal-dalam jangka satu minggu?
      Dengan minimnya pendidikan agama di Indonesia,  maka dampaknya tampak jelas dan nyata. Seperti pelacuran, seks, narkoba, miras, dan lain sebagainya yang seakan-akan semua itu merupakan hal  yang biasa bahkan sesuatu yang harus dikerjakan.  Padahal jelas bahwasannya itu semua merupakan adat dan kebiasaan orang barat yang  tak patut ditiru, karena itu semua bertentangan dengan perintah Allah.  Dan tugas kita selaku penerus bangsa adalah mengembalikan jati diri bangsa Indonesia yang memudar,  serta selalu berpegang teguh pada "tali Allah". Fighting!!

Wallahua'lam.

Tulisan ini adalah arsip majalah Queenz edisi ke 3,yang disusun Oleh: Ulfatul Ummah Halim (Mahasiswi fak. Dirosah Islamiah-Universitas Al-Ahgaff Banat)

Tulis Komentar


Kode keamanan
Segarkan