Pentingnya Beradab

Dibuat pada 03 Mei 2012

Suatu hari seorang pengusaha mengiklankan mencari seorang karyawan. Akhirnya, berbondong-bondong orang mengajukan surat lamaran. Test  kali ini hanya dilalui dengan wawancara pribadi bersama sang pengusaha itu sendiri. Tiba waktunya wawancara calon karyawan, dipanggil satu-persatu oleh asisten pengusaha untuk diwawancarai di ruang kerjanya. Masuklah seorang berdasi dan berjas dengan sepatu mengkilat. Ia masuk dengan gagah, membuka pintu dan menutupnya seolah ia seorang karyawan. Kemudian duduk di kursi, depan pengusaha tersebut.


"Siapa nama Anda?" Wawancara dimulai dari pihak pengusaha.
"A bin A bin A bin A,'' jawabnya mantap.
"Berapa nilai IP Anda?" Tanya sang pengusaha lagi.
"3,9, Pak!" jawabnya lagi. Akhirnya, sang pengusaha menyuruhnya keluar ruangan. Sedangkan calon karyawan tersebut terheran-heran dengan wawancara yang singkat tersebut. Dipanggilah calon selanjutnya. Masuklah seorang pria dengan pakaian sederhana, mengetuk pintu dan membukanya perlahan tanpa suara. Sang pengusaha pun menyuruhnya untuk masuk. Ia melepas sepatu dan menatanya secara terbalik, kemudian menutup pintu dengan tanpa suara lagi. Sang pengusaha terpana hingga membiarkannya berdiri agak lama. Akhirnya menyuruhnya untuk duduk.
"Siapa nama Anda?" Wawancara dimulai.
"Ahmad, Tuan." jawabnya tenang dan perlahan. Namun, ia mengalami nasib seperti temannya. Disuruh keluar hanya dengan satu pertanyaan. Akhirnya, datanglah waktu yang ditunggu-tunggu, pengumuman diterimanya karyawan baru. Ternyata yang terpilih adalah Ahmad.
Dari kisah di atas, mungkin para pembaca bertanya-tanya, kenapa Ahmad? Dia kan orang biasa dengan nilai yang tidak diketahui? Sobat muda …, ternyata ada sisi lain yang dibutuhkan oleh pengusaha tersebut, dan itu dibutuhkan juga oleh perusahaannya, “adab”, bukan nilai. Kok? Mari kita rincikan secara detail!
1-    Kesederhanaan bajunya menunjukan bahwa ia bukan tipe seorang yang tidak suka pamer dan berfoya-foya. Kalau seorang karyawan saja berfoya-foya, bagaimana mau memajukan perusahaan tersebut?
2-    Ketukan pintu dan membukanya secara perlahan adalah sikap sopan-santun dan tata krama ketika ia bergaul dengan orang lain, ia memahami betul privasi orang. Karena mungkin saja orang yang berada di dalam lagi belum ada persiapan atau lagi gak pakai baju dsb. So…, ketukan pintu membuatnya untuk bersiap-siap membereskan diri. Jika sikap seorang karyawan blusak-blusuk masuk ke tempat orang lain, bagaimana orang lain akan menghormati dirinya?
3-    Menata sepatu secara terbalik, adalah tanda kedisiplinan seseorang, serta mempermudah ia untuk melangkahkan selanjutnya, yaitu keluar tanpa harus repot membalikkan badan. Dan itu sangat menghabiskan waktu.
Kedisiplinan sangat diperlukan oleh sebuah perusahaan. Apalagi perusahaan maju. Sobat…! Ternyata dalam tindak-tanduk kita terdapat banyak sifat yang tanpa kita sadari membawa pada keberhasilan. So…, mari kita jaga dan perhatikan tingkahlaku kita sehari-hari!!

By: Aisyah Anika Putri
(mahasiswi tingkat3, fak. Dirasat Islamiyah, univ. Al Ahgaff Banat)

 

Tulis Komentar


Kode keamanan
Segarkan