Perempuan Terpuji Dalam Kisah Al Quran

Ditulis oleh Administrator

Al Quran merupakan pedoman yang ditinggalkan oleh nabi Muhammad untuk umatnya. Beliau langsung yang menjanjikan perlindungan dari kesesatan bagi siapa saja umatnya yang mau berpegang teguh dengan apa yang telah difirmankan oleh Allah kepada beliau yang terkumpul dalam Al Quran. Di dalamnya tidak hanya terdapat hokum-hukum syar'iyah saja, namun juga Allah banyak menceritakan tentang kisah-kisah menarik yang bisa menjadi 'ibroh (pelajaran) bagi setiap hamba yang mau berfikir dengan baik. Allah swt berfirman dalam surat Al A'raf ayat 176:
“Maka ceritakanlah kisah-kisah itu agar mereka berpikir.”

Dan tidak luput dari kisah-kisah agung tersebut, kisah para sosok wanita yang terpuji. Bahkan salah satu surat dalam Al Quran dinamakan dengan nama seorang sosok wanita yang kisahnya tidak hanya diabadikan dalam surat tersebut saja. Wanita mulia tersebut adalah sy. Maryam, ibunda dari nabi isa as. Perjuangannya ketika mengandung nabi isa as tanpa seorang ayah, dihina dan diasingkan oleh keluarga dan kaumnya. Semua mempertanyakan sikapnya yang memalukan itu. Dalam surat Maryam ayat 27-28, disebutkan bagaimana susah payahnya sy. Maryam ketika mengandung nabi isa as dan diolok-olok oleh kaumnya:
“Kemudian dia (Maryam) membawa dia (bayi itu) kepada kaumnya dengan menggendongnya. Mereka (kaumnya) berkata, ‘Wahai Maryam! Sungguh, engkau telah membawa sesuatu yang sangat mungkar. Wahai saudara perempuan Harun (Maryam)! Ayahmu bukan seorang yang buruk perangai dan ibumu bukan seorang perempua pezina.’”
Belum lagi rasa sakit yang ia rasakan ketika hendak melahirkan nabi isa as. Tidak salah jika Allah swt memerintahkan kita untuk berbakti kepada ibu dengan sebaik-baiknya. Sebagaimana firmanNya dalam surat Luqman ayat 14:
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepadaku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu.”
Namun perjuangan sy. Maryam tidak sia-sia. Dari rahimnya, dengan rasa sakit dan jerih payah yang tidak kecil, lahirlah seorang nabi yang diutus oleh Allah dan diberkahiNya, serta dijadikannya putra yang agung dan selalu berbuat baik kepada ibunya.
Selain sy. Maryam, ada juga kisah ibunda dari nabi musa as. Kisah tentangnya juga diabadikan dalam Al Quran di beberapa surat. Di antaranya dalam surat Al Qashash ayat 7-13. Perjuangan yang dijalani ibunda nabi musa as juga tidak kalah berat dengan apa yang dihadapi oleh sy. Maryam, ibunda nabi isa as. Pada saat putranya, nabi musa as lahir, saat itu penguasa kaumnya sedang gencarnya mencari bayi-bayi laki-laki yang lahir dan hendak dibunuh. Sungguh perasaan takut dan khawatir menyelimuti hati ibunda nabi musa as. Namun di tengah perasaan takut yang menerpa, Allah mengilhamkan kepadanya cara agar putranya selamat.
Setelah melalui kekhawatiran dan kesedihan yang dalam, ibunda nabi musa, dengan menuruti apa yang diperintahkan oleh Allah, akhirnya dapat berkumpul kembali dengan putranya, sehingga nabi musa as bisa tumbuh besar dan siap  mengemban tugas risalah suci dari Allah swt, Tuhan Semesta Alam. Allah swt berfirman dalam surat Al Qashash ayat 14:
“Dan setelahdia (Musa) dewasa dan sempurna akalnya, Kami mengarahkan kepadanya hikmah (kenabian) dan pengetahuan. Dan demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.”
Dari dua kisah tersebut bisa kita ambil pelajaran berharga bagaimana tangguh dan sabarnya seorang ibu dalam memperjuangkan segala kebaikan untuk anak-anaknya. Dan ketika memasrahkan semua kepasa Pemilik Seluruh Alam, maka segala kesulitan dan jerih payah akan terbayar dengan sebaikn-baiknya balasan.

 


Tunduknya Seorang Ratu di Tangan Sang Nabi
Dalam surat lain, disebutkan juga kisah tentang nabi sulaiman yang berhasil menundukkan seorang ratu, yang awalnya menyembah matahari bersama kaumnya, akhirnya ia mengaku islam bersama sang nabi. Kisah ini diabadikan dalam surat An Naml. Diceritakan tentang nabi sulaiman yang diberikan mu'jizat oleh Allah berupa tunduknya semua golongan manusia, jin, dan hewan. Dan suatu hari salah satu dari pasukannya membawa kabar dari sebuah negeri di Yaman Utara, Saba'. Sebuah kerajaan yang dipimpin oleh seorang ratu yang memiliki segalanya. Namun sayangnya, ia dan kaumnya menyembah matahari.
Maka kemudian nabi sulaiman mengirimkan sebuah surat kepada ratu yang diduga oleh kebanyakan ahli tafsir bernama Ratu Balqis ini. Allah swt berfirman dalam surat An Naml ayat 29-30:
“Dia (Balqis) berkata, ‘Wahai para pembesar! Sesungguhnya telah datang kepadaku sebuah surat yang mulia. Sesungguhnya (surat) itu dari Sulaiman yang isinya, ‘Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.’”
Dalam surat ini disebutkan bagaimana sikap ratu balqis dalam menyikapi surat yang ditulis langsung oleh nabi sulaiman yang memintanya dan kaumnya untuk tidak menyombongkan diri dan segera datang dalam keadaan sudah memeluk agama islam. Ratu balqis mengumpulkan para pembesar kerajaannya untuk merundingkan perihal surat dari nabi sulaiman. Dan ketika ratu balqis dan pasukannya datang langsung ke kerajaan nabi sulaiman dan menyaksikan sendiri mu'jizat sang nabi, dengan penuh kerendahan hati ia langsung menyatakan diri masuk agama islam bersama sang nabi. Allah swt berfirman dalam surat An Naml ayat 44:
“…dia (Balqis) berkata, 'Ya Tuhanku, sungguh, aku telah berbuat zalim terhadap diriku. Aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan seluruh alam.’”
Menjadi muslimlah ia beserta para kaumnya. Dengan rendah hati, ditanggalkannya segala keagungan atas kedudukannya sebagai seorang ratu. Sungguh keluhuran sikap yang tidak semua orang yang memiliki kedudukan tinggi mampu menunjukkannya. Dan kisah ratu balqis, memberikan kita 'ibroh tentang bagaimana seharusnya seorang pemimpin dalam menyikapi masalah. Dalam kitab-kitab tafsir disebutkan bahwa kisah perundingan ratu balqis dengan para pembesar kerajaannya ketika mendapat surat dari nabi sulaiman as, menjadi salah satu dalil disyariatkannya musyawarah dalam islam.
Dan masih banyak lagi kisah-kisah dalam Al Quran yang mengabadikan sosok-sosok wanita terpuji. Di antaranya lagi, kisah Asiyah, istri dari Fir’aun- laknat Allah atasnya- seorang raja zalim pada masanya. Seorang perempuan yang tetap teguh berpegang dengan keislamannya walaupun mendapat siksaan dari suaminya. Rasa sakit yang begitu terasa dari siksaan yang ditujukan kepadanya seolah tidak dirasa untuk tetap mempertahankan imannya. Allah swt berfirman dalam surat At Tahriim ayat 11:
“Dan Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, istri fir'aun, ketika dia berkata, ‘Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisiMu dalam surga dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim.’’
Itulah sosok para wanita terpuji yang diabadikan kisahnya dalam Al Quran, kitab umat islam yang terjaga kebenarannya sampai hari kiamat. Semoga bisa menjadi inspirasi bagi tiap muslimah yang ingin memiliki ketangguhan sikap, kesabaran hati, dan keluhuran akhlaq.
“Dan sungguh, telah kami buatkan dalam Al Quran ini segala macam perumpamaan bagi manusia agar mereka dapat pelajaran.” (QS. Az Zumar: 27)
wallahu a’lam,
semoga bermanfaat.

*Balqis Aziziy


Tulis Komentar


Kode keamanan
Segarkan